Sebuah kantong plastik berwarna hijau tergeletak di simpang lampu merah jalan raya menuju pusat perdagangan elektronik dan produk IT terbesar di Singapura, Sim-Lim Square Shopping Centre. Keberadaan kantong kresek itu jelas menghapus kesan, Singapura bukanlah kota yang bersih-bersih amat.
Sim Lim Square berlokasi di Rochor Canal Road, timur Singapura. Kawasan itu selama ini memang terkenal sebagai tempat untuk membeli barang elektronik dan IT. Saking banyaknya produk IT dan elektronik yang terpampang pada sejumlah outlet, Pemerintah setempat menjadikan kawasan retail itu sebagai landmark-nya Singapore untuk menjaring turis asing.
Berlibur ke Singapura memang menyenangkan. Apalagi Anda menyukai hal-hal yang berbau shopping. Tetapi jangan salah. Walaupun pemerintah setempat jor-joran mengiklankan negaranya untuk dikunjungi, kawasan koloni inggris itu tidak kalah menarik dibandingkan Johor, Malaka, KL atau Jakarta dan Bali.
Orang Indonesia yang hendak berlibur ke Singapura, biasanya melintasi dua pintu masuk. Yakni pelabuhan laut Harbour Front dan Bandar Udara Internasional Changi. Berbeda dengan orang Malaysia, mereka cukup melintasi sebuah jembatan yang menghubungkan Johor Bahru dan Singapura.
Bagi pelancong asal Indonesia, berurusan dengan petugas imigrasi Singapura adalah sebuah pekerjaan yang menyita pikiran, terkadang was-was. Hal itu tidak hanya terjadi di bandara Changi , atau Pelabuhan Laut Internasional Harbour Front. Bayangkan, penasehat presiden RI sekelas Adnan Buyung Nasution saja, pernah tertahan di bandara Changi, karena alasan yang dibuat-buat. Kelemahan kita orang Indonesia, kemampuan berbahasa asing kita masih lemah.
Apalagi Anda baru pertama kali menginjakkan kaki di Singapura. Selain mereka menanyakan urusan Anda, hal-hal kecil yang “tabu” untuk diungkapkan, tak luput dari perhatian mereka. Misalnya soal pekerjaan dan jumlah uang yang kita bawa ke Singapura. Ironisnya, pemeriksaan mereka hanya ketat saat masuk saja. Giliran pulang, mereka acuh tak acuh saja. Bahkan polis setempat membiarkan “orang-orang Indonesia” melintasi pelabuhan Harbour Front sembari membawa puluhan karung plastik yang berisikan baju bekas.
Kendati orang Singapura pandai berbahasa Melayu, mereka lebih menyukai menggunakan dialek Inggris untuk melakukan percakapan sehari-hari. Padahal bahasa Melayu adalah bahasa nasional Singapura. Singapura sendiri sebenarnya berbatasan dengan negara/kota yang merupakan jantung peradaban Melayu yaitu Johor (Malaysia) dan Kepulauan Riau (Indonesia).
Di Singapura, budaya individual masyarakatnya cukup kental. Tengah kota dan pusat perbelanjaan, sebagian besar di dominasi oleh Ethnis keturunan Thionghoa. Hanya sedikit orang yang berwajah melayu terlihat lalu lalang di Mass Rafid Traffic (MRT) dan Light Rappid Traffic, atau tengah melakukan aktifitas ekonomi di pusat bisnis Sim-Lim Square, Kampung Bugis.
Info seorang rekan, biasanya di Orchard Road baru dijumpai beragam ethnis. Komunitas melayu asli Singapura katanya terkonsentrasi di Gelang. Dari situs wikipedia, penduduk Singapura di dominasi oleh etnis Thionghoa yaitu 77,3% . Etnis Melayu sebagai penduduk asli, jumlahnya hanya 14,1% dari total penduduk Singapura. Sisanya adalah etnis India (7,3%), dan etnis lainnya (1,3%).
Orang Singapura 85 persen tinggal di rumah susun atau flat. Bangunan flat ini disiapkan oleh pemerintah, mengingat luasan lahan Singapura yang sangat terbatas. Dari ujung ke ujung, daratan Singapura luasnya hanya 420 km bujur sangkar.
Di Kota Singapura, hampir semua ruas jalan ditanami pohon pelindung yang cukup rindang. Sepanjang bahu jalan, aneka tanaman hias tumbuh subur diantara hutan beton dan jalur tol. Kalau Anda memasuki Singapura melalui jalur laut, jangan heran melihat ribuan kapal tanker ukuran besar dan kecil, lalu lalang di perairan Singapura. Jika Anda dari Batam dengan menggunakan kapal fery cepat, di wilayah perbatasan perairan Indonesia-Singapura, akan Anda temukan dua atau tiga kapal patroli berbendera Singapura berkeliling mengitari wilayah perairan mereka.
Kadang, kita iri melihat pertumbuhan ekonomi Singapura yang sangat menakjubkan. Indonesia yang mengandalkan tiga daerahnya di Kepulauan Riau, kesannya tumbuh terseok-seok, tak terkecuali Batam. Kabarnya, tanpa dukungan S’pura, investasi yang ingin masuk ke daerah ini akan sulit terealisasi. Yuk…Bangkit Bangun Indonesia (*)